GADIS PANTAI
Pengarang : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Hasta Mitra, 1997
Tebal : 221 halaman
Gadis Pantai adalah novel terbaik Pramoedya. Novel dengan setting
daerah Lasem (Jepara) awal abad 19 ini berkisah tentang seorang gadis
nelayan berumur 14 tahun yang dibawa orangtuanya untuk dijadikan “wanita
utama” seorang “Bendoro” atau priyayi yang masih bangsawan. Di rumah
tersebut, yang juga dihuni oleh para agus atau anak-anak lelaki dari
para wanita utama sebelumnya (yang telah tidak ada lagi), gadis pantai
dilayani oleh seorang wanita pelayan tua, yaitu mbok, yang menghibur
kesedihannya karena jauh dari orang tua. Kemudian pada suatu hari uang
gadis pantai hilang, sehingga mbok meminta para agus tersebut untuk
mengakui bila telah mencuri uang gadis pantai yang hilang. Namun sebagai
akibatnya mbok tersebut diusir, meskipun agus yang terbukti mencuri pun
diusir pula.
Pengganti si mbok adalah seorang perempuan muda, Mardinah, anak
seorang juru tulis, yang disini disebut tergolong priyayi. Pada suatu
hari ketika menjenguk orang tuanya di desa nelayan, Mardinah yang
mengantarkan gadis pantai ke desanya beberapa waktu kemudian kembali
lagi dengan empat orang laki-laki dan memaksa gadis pantai untuk ikut,
seolah-olah diminta pulang oleh Bendoro. Namun orangtua gadis pantai
yang curiga kemudian berpura-pura seolah kampung nelayan tersebut sedang
diserang bajak laut dan Mardinah dan pengikutnya dibawa mengungsi ke
tengah laut dengan perahu. Disana pengikutnya dibunuh dan Mardinah tidak
diberi tempat tinggal sehingga terpaksa menikah dengan salah seorang
penduduk yang dianggap tidak waras. Ternyata Mardinah bermaksud
melenyapkan gadis pantai karena ia telah berjanji kepada bangsawan lain
untuk menjodohkan sang Bendoro suami gadis pantai dengan putrinya,
dengan imbalan ia menjadi istri kelima bangsawan tersebut. Selanjutnya
gadis pantai yang kembali ke rumah Bendoro melahirkan seorang bayi.
Namun setelah tiga bulan gadis pantai dipaksa pergi meninggalkan bayinya
setelah ayahnya yang terkejut atas keputusan Bendoro tersebut diberi
sejumlah uang pembeli perahu. Gadis pantai yang hancur hatinya akhirnya
tidak bersedia pulang dan memilih untuk berpisah dengan ayahnya yang
menjemputnya pulang. Ia ingin membawa dirinya sendiri, dan pergi ke kota
mbok pelayannya dulu.
Perjalanan hidup gadis pantai selanjutnya tentu akan sangat menarik.
Sayangnya kita tidak akan pernah tahu kisah selanjutnya, karena naskah
buku ke dua dan ke tiga novel ini telah dibakar oleh Orde Baru. Sayang
sekali, karena pengungkapan kisah gadis pantai dalam buku ini sangat
indah dan mengharukan. Namun Pramoedya pernah menyatakan tidak mungkin
akan menulis lanjutan novel ini, antara lain karena faktor usia.
Keberpihakan Pram pada masyarakat kecil dan sinisme pada kaum feodal
memang sangat nyata dalam novel ini. Sang bangsawan digambarkan rajin
beribadah, pencinta kebersihan, bahkan menyatakan bahwa kaum nelayan
kurang beriman, kotor, sehingga miskin, dan berdosa karena tidak
beribadah. Namun di sisi lain digambarkan bahwa di balik kesalehannya
berupa kerajinan bersembahyang, menunaikan haji sebanyak dua kali dan
menyumbang pembangunan mesjid atau pengajian, sang Bendoro adalah lelaki
kejam yang gemar mempermainkan perempuan muda golongan miskin untuk
kesenangannya sendiri, yaitu mengambilnya sebagai istri, mengusirnya
begitu saja jika sudah bosan, dan mengambil anaknya dari ibunya tanpa
belas kasihan,. Lebih buruk lagi, perempuan golongan ini pun (priyayi)
ikut mendukung sistem yang merendahkan perempuan itu sendiri. Selain
itu, golongan feodal dan priyayi ikut membantu penjajah dalam menindas
rakyatnya sendiri. Demikian buruknya gambaran kaum feodal dan priyayi
dalam novel ini, serta betapa sia-sianya ritual agama karena toh tidak
mempengaruhi pembentukan moral yang baik, sebaliknya rakyat miskin tidak
bersalah apa-apa. Bahkan beranak banyak pun dianggap wajar saja, karena
nasibnya sudah demikian buruk sehingga tidak ada lagi yang dapat
dilakukan untuk keluar dari nasib buruk tersebut.
Bagi mereka yang merasa tertindas, selalu bekerja keras namun tetap
miskin, mengalami diperlakukan tidak adil, novel ini mungkin akan
semakin menyadarkan ketidakberuntungan mereka dan dapat menimbulkan
kebencian terhadap kaum priyayi atau golongan yang lebih beruntung.
Namun di Indonesia kini, bukan hanya rakyat miskin yang merasa bernasib
sial (terkutuk menurut istilah dalam novel ini), priyayi dan kaum
terpelajar serta berada pun merasa terkutuk memiliki pemimpin dan
pemerintahan yang luar biasa korup dan tak bermoral serta rakyat
kebanyakan yang kepasrahan dan ketidakpeduliannya tak terkira (yang
dalam kemiskinan parah tetap bereproduksi tanpa batas namun mengharapkan
pemerintah menanggung kesehatan, pendidikan dan pekerjaan anak-anak
yang sebenarnya sebagian bisa dicegah kelahirannya) sehingga negeri ini
tidak henti dirundung berbagai permasalahan berat.
Di luar hal-hal di atas, novel ini mampu menggambarkan kehidupan
rakyat jelata dan kondisi sosial pada awal abad 20 dengan sangat
menarik, lancar dan mengharukan. Gaya penuturan Pram yang wajar,
realistis dan mengalir menghidupkan novel ini dan mengesankan
pembacanya. Saya sungguh sedih dan menyesal harus mengakhiri membaca
novel ini tanpa bisa mengetahui kelanjutan kisahny.
